Menanggapi rilis dari Komnas HAM tersebut, Koordinator Indonesian Crime Analyst Forum (ICAF), Mustofa B Nahrawardaya menyatakan, perilaku Densus 88 yang begitu brutal dan sadis pada orang-orang yang baru diduga teroris, terjadi lantaran ada usaha sistematik untuk menutupi fakta yang terjadi di lapangan (TKP).
“Transparansi pemberantasan terorisme selalu gelap. Indikasinya, kebenaran informasi hanya dibolehkan bila berasal dari Polri. Apapun keterangan Polri, dikira sebagai satu kebenaran. Tidak pernah ada kroscek saksi di tempat kejadian, ” tegas Mustofa kepada Panjimas. com, pada Kamis sore via pesan singkat.
“Sehebat apa pun saksi yang lihat sendiri peristiwa penangkapan, penembakan, pembantaian dan sebagainya, bakal dibantah sebagai info sampah. Walau sebenarnya, dalam masalah pidana umum saja, penyiksaan itu tidaklah isapan jempol, ” katanya.
Aktivis muda Muhammadiyah ini menerangkan, data yang ia dapatkan menunjukkan kalau orang-orang sebagai korban penyiksaan serta kesadisan Densus 88 atas nama pemberantasan terorisme nyatanya begitu banyak kenyataannya. Bahkan juga, korban wafat dunia sesudah memperoleh penyiksaan brutal serta sadis Densus 88 juga ramai berlangsung, tetapi amat sedikit yang di menonjolkank serta dikabarkan media mainstrem.
“Banyak kenyataan penyiksaan sadis dikerjakan oknum polisi untuk memaksa pernyataan seorang, bahkan juga korban sampai wafat. Pada masalah terorisme yang masuk kelompok Extra Ordinary Crime, saya mengira lebih sadis serta semakin banyak penyiksaan. Korban-korban penyiksaan serta korban kesadisan aparat (Densus 88 –red) dapat didapati kok siapapun, ” tandasnya.
Zonabioskop.com hadir dengan Nonton Bioskop Online SUBTITLE Indonesia dan juga Download Secara Gratis yukkk Langsung saja klik 2x




