• Latest News

    Jumat, 10 Juni 2016

    Mengenang Ibunda Suci (Shemu).


    Nontoncinta.com - Ibunda Suci lahir pada tanggal 28 bulan 8 (imlek) di tahun 1895 di kota Shan-sien, dengan nama Sun Suk Cen. Pada masa itu Daratan Tiongkok berada dalam kemiskinan, di mana-mana terjadi kekacauan. Wanita dianggap sebagai beban keluarga yang tak berguna. Ibunda Suci adalah orang dusun yang lugu dan tak berpendidikan.

    Di tahun 1930, bersama Bapak Guru Agung, Beliau mengemban Kuasa Firman Tuhan sebagai Patriat-XVIII. Di tahun 1947 Bapak Guru Agung mencapai Parinibbana, dan mulailah Ibunda Suci mengemban tugas memimpin Wadah Ketuhanan. Peristiwa tersebut jatuh pada tanggal 15 bulan 8 (imlek), yang bertepatan dengan perayaan Festival Kue Bulan. Ini menandakan peralihan tanggung jawab dari Sang Surya kepada Rembulan.

    Jika ada orang yang hendak memohon Ketuhanan, mereka terlebih dahulu saling mengirim surat untuk memastikan waktu. Dari Kota Ci-ning ke San-shien yang berjarak 48 Km, Beliau tempuh dengan perjalanan kaki sambil menggendong pelita suci dan barang keperluan seadanya. Pada waktu itu jalan belum beraspal, hanyalah tanah merah ataupun jalan bebatuan. Di musim dingin Beliau tetap melakukan perjalanan, menapaki salju yang tingginya selutut. Sedangkan jika harus bepergian menaiki kapal, Beliau hanya makan dan minum sedikit saja, sebab di kapal yang hanya memuat puluhan orang itu tidak terdapat wc, dan hampir seluruh penumpangnya adalah pria. Sehingga Beliau harus menahan lapar dan tidak ke wc selama kira-kira 20 jam.

    Dalam perjalanan, saat malam tiba Beliau mencari penginapan gratis di mana hanya perlu membayar makanan saja. Bersama seorang asisten-Nya, Beliau beristirahat di atas ranjang batu, dilindungi selimut seadanya. Cuaca dingin yang amat menusuk tulang membuat Beliau sulit tidur, sehingga pada saat-saat itu merupakan penantian panjang menunggu kokok ayam.

    Saat menyebarkan Ketuhanan di Ci-nan, terjadi suatu kemukjizatan. Saat menjemur kacang hijau, Duta Langit menghampiri, meraih kacang hijau itu dengan tangan, kemudian ditiupkan. Ternyata Buddha Ci Kung telah datang dalam tubuh Duta Langit (demikianlah cara yang diterapkan pada masa itu). Buddha Ci Kung menjelaskan, bahwa Beliau sedang meniupkan hawa suci, sehingga kacang hijau ini menjadi pil ajaib yang dapat menyembuhkan segala macam penyakit.

    Sejak itu, apabila ada umat yang sakit, Ibunda Suci segera memberikannya pil suci ini, dan umat tersebut langsung sembuh. Juga jika ada Sesepuh atau Pandita yang akan merintis Ketuhanan ke daerah lain, Ibunda Suci tak lupa memberikan segenggam pil suci ini agar Kabar tentang pil suci ini terus tersebar dari mulut ke mulut. Sejak itu Wadah Ketuhanan berkembang pesat. Kemukjizatan ini merupakan anugerah sekaligus ayoman Kuasa Firman Tuhan bagi setiap pembina Ketuhanan yang tulus.

    Suatu ketika seorang nenek tua yang biasa membantu membersihkan vihara menderita sakit perut selama beberapa hari. Setelah diselidiki, si nenek menjelaskan bahwa sebelumnya si nenek merasa kurang sehat. Mendengar perihal kemanjuran pil suci itu, secara diam-diam si nenek mengambil dua butir, dengan harapan agar badannya sehat kembali. Namun setibanya di rumah, kondisi tubuhnya malah menurun, sehingga sering buang air besar. Mendengar penjelasan ini, Ibunda Suci paham bahwa si nenek sedang mendapatkan hukuman dari para Buddha, karena mengambil pil suci tanpa ijin.

    Si nenek segera dijemput ke Vihara, lalu Ibunda Suci mendampinginya bersujud untuk memohon ampun kepada LAOMU dan para Buddha. Seketika kesehatannya pulih, dan ia tersadar, bahwa keluhuran Jalan Ketuhanan terletak pada Kuasa Firman Tuhan. Maka dalam menghadapi masalah kita harus melaporkan dan memohon restu serta petunjuk kepada Sesepuh ataupun Pandita. Jika kita mengabaikan Kuasa Firman Tuhan dan bertindak semau hati, tentu akan mengalami kesulitan.

    Ibunda Suci selalu memperlakukan diri-Nya dengan sangat ketat. Karena perjalanan sangat lama, makanan yang dibawa pun harus tahan lama. Makanan sehari-hari Beliau hanyalah wowothou (sejenis tepung gandum yang sangat kasar dan hambar) dan sayur asin yang dapat bertahan beberapa bulan. Begitu kerasnya wowothou ini, sehingga jika ingin memakannya terlebih dahulu harus dicelupkan ke dalam air telaga. Jika saat tiba di rumah umat pada jam makan, Beliau tidak ingin merepotkan umat tersebut. Dari kejauhan Beliau menunggu sambil menyantap wowothou. Setelah jam makan usai, barulah Beliau mengunjungi umat tersebut untuk melaksanakan pendhiksaan dan memberikan bimbingan.

    Suatu ketika ujian menimpa, di mana Jalan Ketuhanan dituduh sebagai aliran sesat. Ibunda Suci dianggap sebagai pemimpin yang berbahaya, sehingga selalu dikejar tentara Negara. Pada tahun 1949, Wadah Ketuhanan yang telah menyebar di 36 propinsi, satu demi satu ditutup. Hal ini tentu saja membuat hati Beliau teriris. Pada masa pengejaran itu, para Sesepuh senior banyak menerima ujian hebat. Banyak di antara mereka, demi kesetiaan dan membela Ketuhanan rela menerima hukuman mati. Di antaranya adalah Maha Sesepuh Phan (Cheng Hao Ta Ti) yang rela mengorbankan diri demi keselamatan Ibunda Suci.

    Sebelum mencapai Parinibbana, Bapak Guru Agung pernah berpesan untuk merintis Wadah Ketuhanan di Taiwan. Pada saat itu Taiwan adalah sebuah pulau yang gersang, seakan tidak memiliki masa depan. Namun ternyata kearifan Bapak Guru Agung terbukti, beberapa tahun kemudian Taiwan mengalami kemajuan yang pesat, demikian pula dengan perkembangan Wadah Ketuhanan di sana.

    Di masa-masa genting ini, murid-murid terus membujuk Ibunda Suci agar mau meninggalkan Daratan Tiongkok menuju Taiwan. Akhirnya Ibunda Suci pun tiba di Taiwan. Di sana para murid berharap, semoga Ibunda Suci dapat menemukan ketenangan jiwa. Namun ujian kembali melanda. Wadah Ketuhanan kembali dituduh sebagai ajaran sesat. Di tahun 1955 Ibunda Suci memanjatkan sumpah kehadapan Tuhan bahwa demi keselamatan manusia, Beliau rela mengurung diri selamanya di dalam vihara yang kecil. Hati-Nya terus menjerit, “Jika ingin menahan mereka, tahanlah aku. Jika ingin menyiksa mereka, siksalah aku.” Sejak itu Beliau hidup memenjarakan diri.

    Sejak memanjatkan ikrar tersebut, ujian agak mereda. Dalam masa isolasi ini, Beliau bukan hidup dengan santai menunggu waktu berlalu. Jiwa Beliau terus menjerit karena banyak umat manusia yang belum terselamatkan, sedangkan situasi di luar sangat tidak memungkinkan. Akibat tekanan batin ini, fisik Beliau kian melemah.

    Suatu hari di siang yang panas, Ibunda Suci bertanya kepada murid Beliau, yaitu Yang Arya Maha Sesepuh Ong. “Berapa harga sepotong semangka?” Karena tahu bahwa Ibunda Suci selalu berhemat, Sesepuh Ong menjawab, “50 sen.” Padahal harga semangka sesungguhnya sebesar $1. Mendengar ini Ibunda Suci berkata, “50 sen? Wah, lebih baik minum air putih saja.” Yang Arya adalah siswa yang berbakti, Beliau menjawab, “Biarlah saya yang membelikan dengan uang simpanan hasil usaha sendiri, bukan menggunakan uang Vihara.” Yang Arya merasa terharu atas sifat hemat Ibunda Suci yang sangat ketat. Ibunda Suci tersenyum, “Muridku yang lugu, uangmu juga uang umat, itu juga uang LAOMU. Kita cukup minum air putih saja.” Demikianlah pembinaan yang diterapkan oleh Ibunda Suci. Semua berkah dihemat, dan kini kitalah yang memetik buahnya. Kini kita dapat membina dengan kelancaran, tiada masalah dalam sandang, pangan, papan, dan transportasi. Semua ini adalah berkat budi Ibunda Suci dalam menghemat berkah.

    Pada tahun 1961, kembali Wadah Ketuhanan di Taiwan mengalami guncangan dari pemerintah. Banyak tokoh Ketuhanan yang tewas akibat hukuman pemerintah. Seluruh Vihara akan ditutup, dan ini berarti misi bahtera penyelamatan akan terhenti. Ibunda suci menyadari, bahwa penyebab rintangan yang hebat ini tak lain adalah akibat dosa karma manusia sendiri.

    Pada suatu malam Ibunda Suci menyalakan seikat dupa, bersujud dan memohon welas asih LAOMU. Ibunda Suci bersumpah, “Semua penderitaan dan kesakitan umat manusia, biarlah aku yang menanggungnya dengan derita jiwa dan ragaku.” Di tengah malam yang hening itu seorang wanita tua dengan rambutnya yang memutih memanjatkan sebuah ikrar agung, yaitu ikrar untuk menanggung dosa karma umat manusia. Hanya dengan cara inilah, manusia memiliki kesempatan untuk terselamatkan. Keringat dan air mata terus menetes, hingga tak terasa, hari telah pagi.

    Kicauan burung dan cahaya mentari mendatangkan kedamaian di hati-Nya. Ini adalah tanda bahwa LAOMU telah mengabulkan permohonan Beliau. Seakan lembaran baru telah dibuka, harapan bagi keselamatan umat manusia kini terbentang. Beliau bangkit dari sujudan dengan bernafas lega. Namun seketika tubuhnya terhuyung jatuh. Ia mendapatkan bahwa kini tubuhnya sangat lemah. Dari kepala hingga kaki, tubuh Beliau mengalami lumpuh! Ini tidak lain adalah karena tanggungan dosa umat manusia pada diri-Nya.

    Tak lama kemudian para Sesepuh mengabarkan bahwa pemerintah telah membatalkan instruksinya. Dengan demikian semua Vihara yang telah disegel dapat dibuka kembali. Ibunda Suci cuma berkata, “Bagus, baik… sudah tak terjadi apa-apa.” Para Sesepuh tidak menyadari, apa sesungguhnya yang terjadi pada malam itu. Mereka menganggap hal ini sebagai sebuah keajaiban. Namun seorang asisten Beliau meneteskan air mata, menyaksikan betapa ini bukanlah sebuah keajaiban, melainkan atas budi tanggungan sang Guru.

    Sejak saat itu Wadah Ketuhanan semakin berjaya. Karena Ibunda Suci terisolir dan mengalami sakit parah, satu demi satu murid meninggalkan Beliau. Hanya segelintir Sesepuh yang setia menemani Sang Guru Pengemban Kuasa Firman Tuhan, diantaranya adalah Sesepuh Ong yang menjadi saksi hidup atas segala pengorbanan Ibunda Suci. Beliaulah yang senantiasa melayani dan menghibur Ibunda Suci di tengah penderitaaan-Nya selama 11 tahun.

    Suatu malam di tahun 1975, tepatnya pada tanggal 23 bulan 2 (imlek), Ibunda Suci menghembuskan nafas yang terakhir. Petir menyambar, angina bertiup dengan hebat. Hujan deras mengguyuri bumi, seakan meratapi kepergian Sang Guru Suci. Seorang wanita yang seluruh hidupnya hanya dipenuhi dengan derita demi insan trilokya telah menyelesaikan tugas yang diemban-Nya.

    Saat memohon Ketuhanan, pada Naskah Suci terdapat nama Ibunda Suci sebagai Guru yang memberikan budi tanggungan. Hanya dengan budi inilah, kita yang penuh dengan dosa dan kesesatan bisa mendapatkan Ketuhanan dengan mudah. Sebagai ungkapan syukur atas Rahmat Tuhan dan Kebajikan Guru, marilah kita membina dan mengamalkan Ketuhanan dengan sepenuh hati, melanjutkan misi suci ini untuk mewujudkan cita-cita luhur Sang Guru, yaitu membentangkan jalan keselamatan bagi insan trilokya.

    Zonabioskop.com hadir dengan Nonton Bioskop Online SUBTITLE Indonesia dan juga Download Secara Gratis yukkk Langsung saja klik 2xa

    BERITA CINTA |  FILM CINTA |  ZODIAK CINTA | CERITA CINTA | DUNIA CINTA | CINTA ROMANTIS | FILM ROMANTIS  di www.nontoncinta.com
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments
    Item Reviewed: Mengenang Ibunda Suci (Shemu). Rating: 5 Reviewed By: Unknown
    Scroll to Top