Bule ini rupanya bisa sedikit berbahasa Indonesia,
“Suatu hari saya akan naik becak dari depan Taman Sari bersama dengan teman-teman. Dan saya bisa menawar karena bisa berbicara bahasa Indonesia. Saya bisa menggunakan ungkapan seperti astaga, terlalu mahal, turunkan harga dan ongkosnya bisa lebih rendah. Dan ketika ada tukang becak yang mendekati saya dan menawarkan layanan, kami mengabaikannya dengan maksud untuk membuat perhatian dan bukan untuk menyinggungnya. Kami berjalan kaki sedikit jauh, tapi kembali lagi ke tukang becak itu dan saya bertanya, ‘berapa ongkosnya?’
bapak itu tanya, ‘mau kemana?’ dan saya jawab, ‘Dari Sini ke Jalan Malioboro’. Jalan Malioboro kira-kira dari sini 4 Km dan si bapak minta tarif Rp. 100 ribu.
‘Astaga, terlalu mahal!’, jawabku. Dan kami pun pergi menjauh, seperti dugaan saya, bapak itu memanggil lagi. ‘tunggu,’ katanya.
Saya berkata sambil jalan kaki ‘turunkan harganya.’
‘oke..oke..bisa, jadi Rp. 70 ribu,’ kata dia. Saya berpikir harganya masih terlalu mahal. Dan saya coba tawar lagi, ‘Rp. 30 ribu saja,’ sebab saya pikir Rp. 30 ribu terlalu murah, tapi masih ada harapan.
‘tak bisa, mbak, soalnya Jauh dari Sini,’ katanya. Dan akhirnya kami sepakat dengan harga Rp. 50 ribu untuk satu becaknya. Dan kami puas sebab dapat menikmati perjalanan naik becak. Bagi saya, ini pengalaman menarik karena bisa menawar ongkos naik becak. Ayo coba Becak!’” ajakan sang bule cewek ini.
Bagaimana Menurut Kalian?




