Perayaan apa itu ?
Tradisi kebudayaan bangsa Tiongkok memiliki sejarah yang cukup tua dan panjang. Salah satu kebudayaan yang memiliki pengaruh yang cukup besar di Indonesia adalah hari raya Tiongkok dan selanjutnya banyak perayaan hari-hari besar lainnya.dan sekarang yang ingin kita bicarakan adalah 中元 节 (zhōngyuán jié).
Imlek (yin li) yang artinya kalender bulan atau Kalender Tionghoa adalah kalender lunisolar yang dibentuk dengan menggabungkan kalender bulan dan kalender Matahari.Kalender Tionghoa sekarang masih digunakan untuk memperingati berbagai hari perayaan tradisional Tionghoa dan memilih hari yang paling menguntungkan untuk perkawinan atau pembukaan usaha.
Kalender Tionghoa dikenal juga dengan sebutan lain seperti “Kalender Agrikultur(Pertanian)” (农历 nónglì atau 旧历 jiùlì), “Kalender Yin “阴历yīnlì ” (karena berhubungan dengan aspek bulan), “Kalender Lama” ( 旧历jìulì) setelah “Kalender Baru” (新历xīnlì ) yaitu Kalender Masehi, diadopsi sebagai kalender resmi, dan “Kalender Xià (夏历xiàlì )” yang pada hakikatnya tidak sama dengan kalender saat ini.
(Chinese Ghost Month)
Mari kita lihat…
Perayaan Mendoakan Arwah Leluhur (Zhongyuan Jie)
Biasanya jatuh pada tanggal 15 bulan 7 kalender Lunar. Diperingati oleh kebanyakan agama Budha yang disebut hari Ulambana atau pelimpahan jasa kepada para leluhur. Di hari ini, orang mengirim doa untuk para leluhurnya. Banyak juga yang menganggap bulan ini adalah bulan hantu atau bulan keluarnya para arwah gentayangan. Dibulan ini, orang jarang mau keluar malam hari. Pada bulan ini juga lah, dilakukan pembakaran perahu-perahu tiruan, seperti yang kerap dilakukan diberbagai kota yang banyak masyarakat Tionghoa nya
Festival Cioko (鬼節gui jie /sembahyang arwah), atau disebut juga Festival Hantu Kelaparan, adalah sebuah tradisi perayaan dalam kebudayaan Tionghoa. Festival ini juga sering disebut Festival Tionggoan (中元zhong yuan). Suku Hakka menamakannya Chiong Si Ku yang jatuh pada pertengahan bulan ke-7 (atau lebih populer disebut chit ngiet pan). Ritual ini sering dikaitkan dengan hari raya Taoisme Zhongyuan maupun Buddhisme Ulambana.
Secara umum, orang beranggapan bulan tersebut adalah bulan untuk menyembahyangi arwah gentayangan, menyeberangkan mereka yang tersesat di alam kematian “palsu”. Perayaan Zhongyuan jie sebenarnya adalah hari penebusan dosa, dimana pada umumnya dilakukan upacara penyeberangan para arwah gentayangan. Salah satu bagian penting upacara tersebut adalah baichan拜懺 atau upacara penyesalan/ pertobatan, karena pada tanggal 15 bulan 7 itu adalah hari dimana Diguan Qingxu dadi 地官清虛大帝 melakukan inspeksi dan mencatat manusia yang berbuat jahat.
Upacara besar bulan tujuh memiliki banyak sebutan, antara lain adalah 盂 兰 盆 斋(yú lán pén zhāi)/ ( ritual Ulambana ), 中元普渡法会(zhōngyuánpǔdù fǎhuì )( Upacara penyeberangan keselamatan di hari Zhongyuan ). Upacara pendukungnya selain baichan 拜懺 adalah Fangyan kou 放焰口 atau Shishi施食 ( kedua upacara ini adalah membuat arwah gentayangan bisa makan ) dan pada umumnya upacara ini dilakukan di 孤臺 atau panggung kesepian yang maksudnya adalah untuk para arwah yang tidak disembahyangi oleh keluarganya, yang tidak memiliki kerabat, yang mati belum saatnya, yang meninggal tidak tenang dan berbagai sebab lainnya dimana arwah tersebut tidak mendapatkan penghargaan sebagaimana layaknya.
Hari ke-15 bulan ke-7 penanggalan Tionghoa. Bulan ke-7 Imlek juga dikenal sebagai Bulan Arwah (Chinese ghost month) dimana ada kepercayaan bahwa dalam kurun waktu satu bulan ini, pintu alam baka terbuka dan hantu-hantu di dalamnya dapat bersuka ria berpesiar kealam manusia. Demikian halnya sehingga pada pertengahan bulan 7 diadakan perayaan dan sembahyang sebagai penghormatan kepada hantu-hantu tersebut.
Tradisi ini sebenarnya merupakan produk masyarakat agraris Kongfusiani,Taois termasuk juga Buddha di zaman dahulu yang bermula dari penghormatan kepada leluhur serta dewa-dewa supaya panen yang biasanya jatuh dimusim gugur dapat terberkati dan berlimpah. Namun pengaruh religius terutama dari Buddhisme menjadikan tradisi perayaan ini sarat dengan mitologi tentang hantu-hantu kelaparan yang perlu dijamu pada masa kehadiran mereka didunia manusia.
Di dalam Buddhisme, tradisi ini disebut sebagai Ulambana yang juga dirayakan dan eksis dalam kebudayaan lain seperti Jepang, Vietnam maupun Korea. Namun, Ulambana tidak dapat diartikan langsung sebagai Festival Hantu dan sebaliknya juga. Terlepas dari semua mitologi religius diatas, hikmah dari perayaan ini sebenarnya adalah penghormatan kepada leluhur dan penjamuan fakir miskin. Pada hari itu diadakan pembacaan parita dan pesembahan untuk roh-roh gentayangan yang tidak berkeluarga atau yang ditelantarkan oleh keluarganya.
Sebab itu, perayaan ini secara umum dikenal dengan nama Sembahyang Rebutan (Cioko). Setelah perayaan selesai, barang-barang persembahan (makanan yang dipersembahkan) diberikan kepada fakir miskin. dan dilanjutkan dengan pembakaran perahu yang disebut fachuan法船 ( perahu dharma/ ajaran ) atau bore chuan 般若船 ( perahu kebijaksanaan ) untuk para arwah melayari lautan penderitaan dan mencapai pantai kebahagiaan.
Perahu itu disebut demikian karena para arwah telah dibacakan dharma atau ajaran mengenai ajaran yang benar dan pentingnya belajar melepaskan dari emosi-emosi dan kilesa ( kekotoran batin ) yang menutupi diri mereka sehingga tidak bisa memasuki alam kebahagiaan dan terombang ambing di alam kematian “palsu”.
Yi Lan Pen Jing, di dalam Kitabnya:
Pada zaman dulu, ada seorang Bikkhu yang bernama Maha Moggalana. Ia merupakan salah seorang dari 10 Murid Utama Sang Buddha Gautama.Maha Moggalana adalah murid Sang Buddha dengan kesaktian no. 1 (dibawah Sang Buddha).
Maha Moggalana pada suatu ketika, dengan mata bathinnya melihat ibunya yang telah meninggal dunia, berjalan bersama dengan sekelompok hantu kelaparan. Dengan maksud menolong ibunya, lalu ia mengisi nasi ke dalam sebuah mangkok, untuk memberi makan ibunya. Siapa nyana, begitu nasi akan disuapkan ke mulut ibunya, nasi tersebut berubah menjadi bara api yang panas membara. Maha Moggalana dengan menggunakan kesaktiannya mencoba berkali-kali, tapi setiap kali hendak masuk ke mulut ibunya, nasi tersebut berubah menjadi bara api.
Maha Moggalana terkejut luar biasa, lalu kembali dan melapor kepada Sang Buddha Sakyamuni. Sang Buddha berkata kepadanya: Dosa ibu kamu terlalu berat, hanya dengan kekuatan kamu 1 orang, tidak bisa membebaskan penderitaan ibu kamu !
Lalu Maha Moggalana berlutut di lantai, memohon kepada Sang Buddha sambil berlinang air mata : Mohon Buddha memberi petunjuk, bagaimana baru bisa menolong ibu saya agar terbebas dari lautan penderitaan,dan tidak bersama dengan para hantu kelaparan itu lagi ?
Sang Buddha menjawab : Mengenai hal ini, membutuhkan kekuatan para Bikkhu di 10 penjuru, begitu sampai Hari Raya Zhong Yuan Jie ini, mewakili orang tua dari 7 generasi, dan orang tua sekarang yang berada dalam bencana /malapetaka, mempersiapkan bermacam-macam sayur dan buah-buahan, untuk dipersembahkan kepada Yang Berkebajikan di 10 penjuru, setiap orang berbuat kebajikan, di saat ini barulah bisa membebaskan penderitaan semua hantu kelaparan.
Setelah Maha Moggalana mendengarnya, lalu bertanya lagi : Semua orang yang berbakti, apakah boleh ikut serta dalam Yi Lan Pen ?
Sang Buddha menjawab : Sangat bagus ! Sangat bagus !
Ikut serta dalam Yi Lan Pen boleh membaca paritta Yi Lan Pen Jing. Agar orang tua yang dalam penderitaan bisa memperoleh keterbebasan.Oleh karena ini, pada hari dan menjelang Hari Raya Zhong Yuan Jie banyak orang yang bervegetarian dan bersembahyang, mewakili orang tua yang telah meninggal, terbebas dari penderitaan.
Konon, pada Hari Raya Zhong Yuan Jie, adalah hari di mana Pintu Gerbang Neraka dibuka ! Untuk menghindari agar ayah ibu yang telah meninggal dunia tidak mengalami penderitaan Neraka, maka
dilaksanakanlah sembahyang kepada roh-roh, dewa dan hantu secara besar-besaran, mengharap agar roh-roh halus jangan menganiaya ayah ibu yang telah meninggal tersebut.
Hari Raya Zhong Yuan Jie, Hari Raya Ceng Beng(Qing Ming), dan Hari Raya Dang Jie adalah 3 Hari Raya Hantu di kalangan kita orang-orang Tionghoa.
Di daerah-daerah dan propinsi-propinsi di Tiongkok, Taiwan, Hongkong, Macau, sangat menaruh perhatian kepada 3 Hari Raya ini. Apalagi pada Hari Raya Zhong Yuan Jie ini, melaksanakan upacara sembahyang dengan sangat megah dan hikmat. Ini adalah perwujudan “Bakti” kepada orang tua. Sekarang, Yi Lan Pen Jing lebih dikenal sebagai Ulambana. Ulambana berasal dari sutra Buddha yang pernah menganjurkan muridnya Mogallana untuk membentuk masyarakat Yu Lan Pen untuk menolong ibu Mogallana yang menderita di neraka. Dengan Ulambana, Mogallana dapat melakukan pelimpahan jasa pahala kepada ibunya dengan melakukan perbuatan baik. Perbuatan baik itu diwujudkan dengan memberikan dana makanan kepada 500 orang arahat yang baru selesai menjalankan masa vassa pada bulan ke-7. Peringatan ini berkembang menjadi sehingga masyarakat akan menyuguhkan berbagai makanan kepada makhluk penghuni neraka.
Terlepas dari mitos, perayaan Zhong Yuan atau Chit Nyiat Pan pada bulan ke-7 dapat dikatakan bulan bakti kepada orang tua ini sangatlah bermanfaat. Dengan adanya upacara dan sembahyang kubur, kita bisa mengenang jasa-jasa leluhur dan orang tua yang sudah membesarkan kita dengan kasih sayang yang tanpa pamrih. Bakti ini tidak hanya diwujudkan kepada orang yang sudah meninggal tetapi juga harus diberikan kepada orang tua kita yang masih hidup. Dengan adanya peringatan Chit Nyiat Pan ini semoga makna bakti kepada orang tua bisa diteruskan dan dilanjutkan oleh generasi muda.




