Suatu hari pria yang mendengar perkataan ini dari pacarnya kemudian pulang dengan hati gundah, dia meminta saran pada papanya dan papanya berkata, "Mobil kita bisa usahain, harta di rumah kalau dijual mau beli berapapun nggak masalah. Rumah, nggak gampang. Sayang kalau rumah kita ini harus dijual untuk mencari villa dan rumah mewah yang belum tentu bisa kita dapatkan. Sudahlah dia paling cuma liat hartamu, cari lah perempuan yang lain."
Dari sini, kita bisa belajar untuk tidak lebih dulu meremehkan orang lain sebelum kita tahu apa yang mereka punya, juga belajar untuk mencari cinta sejati, cinta yang tidak memandang harta.
Kotak makan
Tidak hanya itu, ada kisah lain dimana seorang wanita suatu hari didatangi suaminya di kantor dan suaminya memberikan kotak makan untuknya. Tapi tanpa berbicara apa-apa, mereka kemudian berpisah. Salah seorang pegawai pria yang lain bertanya kepada wanita ini, "Itu tadi siapa?"
"Tukang antar makan."
"Oh, kok nggak bilang makasih?"
"Nggak usah lah. Ntar malem tidur sama dia aja udah cukup."
Pria ini kemudian berjalan pergi.
Keesokan harinya, pria ini kemudian membawa sebuah kotak makan, lengkap dengan 3 sayur dan 1 kuah...
Kalau kita ingin membuka usaha, jangan lupa untuk caritahu dulu sebelum kita mentah-mentah meniru cara kerja orang lain.
Menabung lewat ATM
Zaman sekarang ini ada beberapa mesin ATM yang bisa membantu kita menabung secara instan. Kita cukup memilih pilihan yang ada, memasukkan uang, dan selesai. Suatu kali ada seorang pria yang menabung lewat ATM dan tiba-tiba mesin ATM itu rusak dan sejumlah besar uangnya ditelan oleh mesin. Dia menelefon pusat layanan dan mereka berkata pria ini harus menunggu sampai besok. Setelah memutar otak sekian lama, dia akhirnya menelefon pusat layanan dengan telefon umum dan mengatakan kalau mesin ATM yang sama itu mengeluarkan uang banyak yang melebihi jumlah yang dia tekan. 5 menit kemudian, beberapa orang ahli langsung datang dan memperbaiki mesin itu.
Terkadang banyak orang tidak mau membantu kita karena mereka merasa tidak ada keuntungan untuknya. Tapi tampaknya hidup tidak perlu seperhitungan itu. Bukankah lebih baik memberi daripada menerima?




